Jelang Ramadhan, Warga Beramai-Ramai Cuci Karpet Masjid di Sungai

Menjelang bulan suci Ramadhan, berbagai tradisi dan persiapan dilakukan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, salah satu tradisi yang masih lestari adalah mencuci karpet masjid secara bersama-sama di sungai. Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Berikut adalah ulasan mengenai tradisi cuci karpet masjid di sungai yang dilakukan oleh warga Desa Sumber Jaya.

Latar Belakang Tradisi

Di Desa Sumber Jaya, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mencuci karpet masjid di sungai telah menjadi bagian dari persiapan menyambut Ramadhan sejak puluhan tahun lalu. Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk kebersamaan dan gotong royong masyarakat desa.
Pak Hasan, seorang tokoh masyarakat desa, menjelaskan bahwa tradisi ini berawal dari kebiasaan nenek moyang yang percaya bahwa air sungai yang jernih dan mengalir memiliki kemampuan membersihkan yang lebih baik daripada air sumur atau PAM. Selain itu, mencuci karpet di sungai juga dianggap sebagai upaya menyucikan diri dan tempat ibadah sebelum memasuki bulan suci.

Proses Pelaksanaan

Pelaksanaan tradisi ini biasanya dilakukan satu minggu sebelum Ramadhan. Warga desa, baik tua maupun muda, berkumpul di masjid sejak pagi hari. Karpet-karpet masjid, yang telah digulung dengan rapi, dibawa menuju sungai menggunakan kendaraan bak terbuka atau gerobak.
Tahapan Pencucian Karpet:
  1. Pengangkutan Karpet
    Karpet-karpet digulung dan dibawa secara gotong royong menuju sungai yang terletak sekitar 500 meter dari masjid.
  2. Pembersihan Awal
    Setibanya di sungai, karpet-karpet digelar di tepi sungai dan dibersihkan dari debu dan kotoran dengan cara dipukul-pukul menggunakan tongkat bambu.
  3. Pencucian dengan Sabun
    Karpet-karpet kemudian direndam dan disikat dengan sabun khusus yang ramah lingkungan. Beberapa warga menggunakan sikat tangan, sementara yang lain menggunakan sikat yang terpasang pada gagang panjang untuk menjangkau area yang lebih luas.
  4. Pembilasan dengan Air Sungai
    Setelah disabuni, karpet-karpet dibilas dengan air sungai yang mengalir deras. Proses pembilasan ini dilakukan secara berulang hingga semua sisa sabun hilang dan karpet terasa bersih.
  5. Pengeringan
    Karpet-karpet yang sudah bersih dijemur di atas tiang-tiang bambu atau pagar di sekitar sungai. Beberapa warga juga membawa kipas angin besar untuk mempercepat proses pengeringan.

Makna dan Manfaat Tradisi

Tradisi mencuci karpet masjid di sungai memiliki banyak makna dan manfaat, baik secara sosial, budaya, maupun spiritual. Berikut beberapa di antaranya:
1. Kebersamaan dan Gotong Royong
Tradisi ini mempererat ikatan sosial antarwarga desa. Masyarakat berkumpul, bekerja sama, dan saling membantu, menciptakan kebersamaan yang kuat.
2. Kebersihan dan Kesucian
Membersihkan karpet masjid adalah simbol penyucian diri dan tempat ibadah menjelang Ramadhan. Karpet yang bersih menciptakan lingkungan ibadah yang nyaman dan khusyuk.
3. Pelestarian Tradisi
Dengan melibatkan generasi muda dalam tradisi ini, nilai-nilai budaya dan kebersamaan dapat dilestarikan. Generasi muda belajar tentang pentingnya gotong royong dan menghargai warisan budaya.
4. Ramah Lingkungan
Penggunaan sabun ramah lingkungan dan air sungai yang jernih menunjukkan kepedulian warga terhadap lingkungan sekitar.

Reaksi Warga dan Harapan

Pak Budi, seorang pemuda desa, menyatakan antusiasmenya terhadap tradisi ini. “Setiap tahun, saya selalu ikut serta dalam mencuci karpet masjid. Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu karena selain membersihkan, kami juga bisa berkumpul dan berbagi cerita,” ujarnya.
Ibu Siti, salah satu ibu rumah tangga di desa, berharap tradisi ini terus dilestarikan. “Tradisi ini bukan hanya tentang mencuci karpet, tetapi juga tentang mempererat hubungan antarwarga. Semoga anak-anak kita terus melanjutkan tradisi ini,” katanya.

Penutup

Tradisi mencuci karpet masjid di sungai menjelang Ramadhan adalah cerminan dari kekayaan budaya dan nilai-nilai kebersamaan masyarakat Desa Sumber Jaya. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, tradisi ini akan terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan. Semoga tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. Selamat menyambut Ramadhan dengan hati dan lingkungan yang bersih!